air internasional

Air Internasional

Oleh ;
Dan Tarlock & Patricia Wouters

Pembahas;
Surya Anom

Abstrak
Artikel ini membahas tentang penerapan metode strategis bagi pemanfaatan air internasional bagi kepentingan bersama dalam pembangunan sungai internasional, sebagai pengganti metode pemanfaatan air secara tradisional yang berada diantara negara-negara yang berbatasan dengan sungai yang melintasinya. Dalam artikel ini membahas tentang beberapa permasalahan tentang keberatan-keberatan dalam penggunaan sungai (air) internasional, serta membahas dua kasus dalam pemanfaatan air secara bersama.

Kasus yang pertama tentang Konsep pembagian manfaat air, dimulai dengan sebuah pandangan penghormatan terhadap kegunaan air, yang terjadi saat memulai negosiasi dalam perjanjian antara Kanada dengan United States Columbia River (Amerika Serikat). Bahwa dalam perundingan itu ada keraguan-keraguan dari Kanada berkaitan dengan pelaksanaan dari perjanjian dengan United States Columbia River, dalam pelaksanaan pemanfaatan air internasional secara bersama, karena United States Columbia River akan melanjutkan kegiatannya di sungai internasional itu dengan memanfaatkannya menjadi produksi listrik tenaga air untuk kepentingan Amerika Serikat.

Kemudian kasus yang kedua dari lembah sungai Amu dan Syr Darya yang berada di Asia tengah. Bahwa pembagian manfaat sebagai dasar untuk pembangunan lembah sungai tersebut. Namun, karena adanya tindakan pengembangan lembah sungai secara sepihak yang tidak terkendali, bukan merupakan tindakan pertanian, dengan demikian menyebabkan penurunan derajat ekosistem yang terus menerus.

Bahwa ada 4 (empat) kemungkinan masalah yang akan timbul berkaitan dengan pembagian manfaat dari sungai internasional tersebut, diantaranya adalah tentang;
a. Alokasi untuk wilayah yang masih tradisional termasuk hak-hak pemilik dari wilayah tersebut,
b. Hilangnya ekosistem, hanya demi keuntungan ekonomi,
c. Bangunan konstruksi (bendungan) yang baru masih diragukan manfatnya, dan
d. Perubahan iklim global.

I. Penggunaan bersama Perairan Internasional
Pada Bagian ini membahas tentang ketentuan hukum air internasional yang ada saat ini, bahwa pembagian yang patut dan layak antara negara-negara perbatasan dengan satu sungai internasional adalah sebagai norma atau ketentuannya, penekanannya pada alokasi pembagian dari manfaat-manfaat sungai internasional yang terdapat diantar negara yang berada di tepi sungai.

A. Antara Teori dan Praktek
Hukum air internasional modern berupaya menyeimbangkan pengembangan dan peluang dalam penggunaan air internasional yang berada di antara negara-negara yang berada di tepi sungai. Tantangan hukum yang terbesar itu telah mendorong pembagian yang nyata terhadap perairan yang ada di antara negara-negara dengan kapasitas yang berbeda untuk menampung dan mengalihkan perairan.
Perbedaan geografis sering kali menjadi masalah dalam ketidakseimbangan yang sistematis antar negara yang berada di tepi sungai. Konflik-konflik antara negara hulu dengan negara hilir adalah suatu contoh yang klasik dari ketegangan (permasalahan) yang timbul antara geografi dan hukum. Negara hulu sering tidak mampu untuk menampung dan menyalurkan air pada penggunaan yang bermanfaat bagi pertanian dan permukiman serta pengembangan ekonomi negara hilir. Bahwa negara hilir sering mejadi korban dari negara hulu yang kuat, seperti guncangan ekonomi pertanian yang terjadi di sungai Tigris dan Efrat telah mengkawatirkan akibat pengembangan yang agresif dari Turki. Kemudian, seperti di China adalah contoh yang lain dari negara hulu yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pengembangannya dengan cepat, walaupun China bukan peserta dalam perjanjian sungai Mekong, namun China telah mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk mempengaruhi sungai yang mengalir dan ekologi pada aliran sungai Mekong, dimana banyak pembangkit listrik tenaga air di hulu sungai tersebut.
Bahwa ada suatu konsensus antar para pengacara internasional yaitu negara yang berada di tepi sungai perlu untuk berbagi secara wajar dalam pemanfaatan perairan sungai-sungai internasional yang terdapat di antar negara mereka, seperti halnya dalam fakta sejarah dalam peristiwa Lake Lanoux Arbitration.
Negara hulu sering kali secara sepihak membuat tanggul, mengalihkan, dan bertindak yang berdampak pada lingkungan sungai di negara lain. Berdasarkan hukum umum dalam penggunaan air internasional, menyatakan bahwa semua negara yang berada di tepi sungai berhak kepada pemanfaatan yang patut terhadap sungai yang ada disekitarnya.
Hukum air internasional yang berasal dari jurisprudensi Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa negara yang berada atau diposisi di tepi sungai mempunyai hak atas distribusi yang merata serta patut dari suatu sungai yang mengalir diantar negara-negara bagian. Bahwa konsep hukum air internasional sudah meluas dari distribusi merata yang patut kepada pemanfaatan yang patut, dan membuat perlindungan dalam penggunaannya.
Hukum internasional mengatur bahwa masing-masing negara mempunyai hak-hak untuk pembagian yang adil dari sumber daya air yang saling berhubungan, semua perumusan ini terdapat dalam prinsip Helsinki Rules 1967. yang menyatakan bahwa pengaturan tersebut diantaranya tentang letak geografi, ilmu tata air, dan iklim dari suatu penampungan, pemanfaatan daya, kebutuhan ekonomi dan sosial, dan ketersediaan alternatif sumber dari penyediaan air di antara faktor-faktor yang relevan untuk mempertimbangkan dan menentukan apa yang sesungguhnya layak dan yang patut dalam penggunaan air. Pengaturan terakhir dalam prinsip-prinsip tersebut dimuat pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, 8 Juli 1997 (Nonnavigational Uses International Water Courses) tentang Konvensi Anak sungai, yang kini dapat memaksa negara-negara untuk menggunakan anak sungai dengan cara yang layak dan patut.

B. Antara Penggunaan Bersama dengan Membagi Manfaat Bersama
Bahwa sudah ada dua model dari pemanfaatan dalam penggunaan air secara layak dan patut. Pertama adalah “distribusi merata klasik.” Hal ini hampir selalu dilaksanakan dalam setiap perjanjian-perjanjian oleh negara yang ketergantungan dari sungai di antara negara yang di tepi sungai. Masing-masing negara bebas untuk memutuskan bagaimana bagian pemanfaatan yang akan diterapkan. Faktor sejarah adalah sebagai dasar negara itu untuk mendapatkan hak dalam penggunaan dan pemanfaatannya.
Model yang kedua dari pemanfaatan yang patut adalah “manfaat yang dibagi bersama.” Model itu berasal dari prinsip ekonomi kesejahteraan, dimana air adalah hanya sebagai suatu sumber daya yang langka dengan penggunaan alternatif. Sumber daya air dialokasikan sebagai bagian yang berharga dan berguna, hal ini berarti bahwa beberapa negara-negara harus menggunakan air secara nyata dan berhak meminta ganti-rugi pada negara lain dalam penggunaan air itu pada saat menggunakannya secara tidak efisien. Konsep ini adalah biasanya dihubungkan dengan Perjanjian antara Kanada dengan United States Columbia River (Amerika Serikat) pada tahun 1961, dan sudah menjadi suatu prinsip yang umum dalam air internasional dan hukum lingkungan.
Pada saat Amerika Serikat dan Kanada masing-masing ingin membendung Mighty Columbia, terutama untuk tenaga listrik dan pengendali banjir, dimana aliran dari hulu yang mengaliri hilir pasti akan berkurang, Kanada menggunakannya untuk tenaga listrik, serta Kanada merencanakan akan menyediakan pengendali banjir yang substansiil dan bermanfaat bagi Amerika Serikat. Para pihak setuju untuk melaksanakan pengembangan tersebut, di mana negara hulu dapat menyimpan dan mengalirkan air pada negara hilir untuk dikonsumsi. Dengan demikian semua negara yang berada di tepi sungai dapat menerima keadilan dalam memanfaatkan air. Keadilan dapat diperoleh sama dengan pembagian pemakaian air atau dengan ganti-rugi.

C. Beberapa Permasalahan Tentang Manfaat Yang Dibagi Bersama
Kegairahan yang ada untuk manfaatkan air secara bersama diatas ada beberapa perkecualian, diantaranya seperti di Negeri China di Upper Mekong upstream, dimana negara di daerah hulu tidak bisa bekerjasama dengan sama dengan negara hilir yang lebih kaya yang memerlukan air dan mempunyai kapasitas untuk mengkonsumsinya.
Keuntungan ekonomi jangka pendek sampai pada biaya penggunaannya dimasa depan, kemudian manfaat yang dibagi bersama, secara tidak langsung menimbulkan permasalahan kemiskinan, maupun kegagalan secara luas dari proyek-proyek sumber daya air untuk dimanfaatkan secara bersama oleh mereka.
Bahwa manfaat pembagian resiko terhadap integritas ekosistem yang berhubungan dengan air, yang diatur dalam hukum air internasional, tidak diwujudkan. Kemudian masalah integritas ekosistem itu diperburuk, karena meskipun ada usaha-usaha untuk melakukan pelestarian lingkungan sesuai dengan hukum air internasional, ada upaya penentangan secara umum, seperti sungai-sungai dilindungi hanya dari peristiwa-peristiwa polusi yang serius saja.
Hal ini menciptakan resiko dari kerusakan lingkungan, tetapi kerusakan ini tidak dapat dikenali oleh hukum. Sebagai contoh, pengalihan fungsi rekreasi hiburan di arah hulu, secara umum dapat meningkatkan kadar garam disungai dengan membiarkan air laut untuk bergerak tempat hulu sungai. Sebagai tambahan, polusi yang dianggap serius, yang bisa diidentifikasi lebih sedikit dari polusi biasa, dibandingkan dengan dampak-dampaknya yang nyata, kumulatif dari penggunaan air yang bersifat merusak lebih besar dibandingkan dengan perbaikan dan pencegahan.
Meskipun demikian, Konvensi Suber Air yang berisikan beberapa perlindungan terhadap lingkungan baru yang inovatif, dimana Pemerintah dapat menyediakan atau membuat suatu yayasan atau lembaga yang bergerak dibidang perlindungan arus sungai, seperti pada Pasal 20 memerintahkan negara untuk melindungi ekosistem-ekosistem anak sungai/air internasional, dan pada Pasal 22 memerintahkan negara-negara untuk mengambil semua tindakan yang perlu untuk mencegah kerusakan jenis spesies langka yang terdapat di sungai.

II. Praktek dan Hukum dalam Manfaat Yang Dibagi Bersama
Bagian ini mengkaji negosiasi pada perjanjian antara Kanada dengan United States Columbia River (Amerika) Perjanjian Sungai Kolumbia adalah asal mula dari konsep manfaat yang bagi bersama.

A. Perjanjian Sungai Columbia
Pada tahun 1964 Perjanjian Sungai Kolumbia antara Amerika Serikat dan Kanada secara luas disebut sebagai model pembagian manfaat dan kerjasama dua negara, antara negara hulu dan negara muara (hilir) dengan beberapa ketidaksamaan antara mereka. Dimana Kanada membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga air dan ruang pengendali banjir untuk meningkatkan pendapatan negaranya, Kanada hanya mempunyai lima belas persen dari penampung pengering sungai Kolumbia itu, tetapi menyokong tiga puluh persen dari jumlah keseluruhan, dan empat puluh persen dari arus timur yang berasal dari air terjun kecil pegunungan.
Sejak tahun 1930an, Amerika Serikat mulai melakukan pengembangan dengan tujuan yang ganda dari Columbia River, dan harus bernegosiasi dengan Kanada. Negosiasi itu mula-mula diselenggarakan pada tahun 1909 tentang Perjanjian Batas Air (Boundary Waters Treaty), yang mengatur semua perairan batas antara kedua negara. Pada tahun 1951, Amerika Serikat dengan Kanada membuat Komisi Pengawas Perhubungkan (IJC) untuk membangun bendungan Libby di Montana dari Kootenay untuk mengendalikan banjir dan untuk arus listrik tenaga air yang ada.
Bendungan Libby menjadi perhatian yang serius Kanada karena waduk kolam air (reservoir) itu akan terus meluas ke Kanada. Sebagai negara hulu, Kanada mempunyai beberapa lokasi-lokasi reservoir yang diinginkan, permintaan domestik yang kecil untuk ruang simpan listrik atau pengendali banjir. Dimana populasi penduduk Kanada hanyalah tujuh persen di daerah Basin dan banyak lembah-lembah dari arah hulu. Amerika Serikat memberikan kepada ganti kerugian pada Kanada untuk biaya-biaya penampungan penduduk dan infrastruktur yang ada di lahan yang akan dibanjiri.
Kanada meminta pembagian manfaat dari ruang simpan di sepanjang sungai ke arah muara. Ketika Amerika Serikat menolak permintaan pembagian manfaat yang dibagi bersama. kemudian antara Kanada dan Amerika Serikat tersebut mengedepan penafsiran-penafsiran diri sendiri yang terdapat pada Perjanjian Batas Perairan tahun 1909. Kanada berargumentasi, Pasal II kebijakan yang diizinkan, termasuk suatu pengurangan perbatasan dalam dua puluh lima persen, Kanada melibatkan prinsip Harmon doktrin dari kedaulatan wilayah yang absolut.
Sebaliknya, Amerika Serikat membuat argumentasi alur hilir yang klasik, yaitu prinsip dari integritas pada arus yang alami (wajar), dalam argumentasinya Amerika Serikat juga melibatkan prinsip dari penggunaan sejarah, dengan mengalihkannya pada pemanfaatan tempat rekreasi (hiburan) sebagai hak pribadi.
Perjanjian Sungai Kolombia memberi hak pada Kanada untuk mengembangkan 155 juta kaki akre dari ruang simpan dalam tiga proyek-proyeknya. Kebanyakan dari ruang simpan itu diperuntukan sebagai pengendali banjir, dan dalam perjanjian itu menyatakan lima puluh persen untuk dimanfaatkan oleh Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Amerika Serikat sudah membayar Knada US$644 juta dolar, terutama untuk konstruksi waduk kolam air di daerah Duncan dan Arrow. Kanada sudah menerima US$2544 untuk pembuatan tenaga air sebagai hasil penjualan.

B. Manfaat Bersama di Asia Tengah
Amu Darya dan Syr Darya adalah sungai-sungai melintasi Tajikistan dan Kyrgyzstan dan menurut sejarah mengalir ke Laut Aral. Di daerah muara terdapat tempat-tempat rekreasi hiburan di Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan yang mempengaruhi kesehatan, ekonomi, dan bencana-bencana lingkungan. Air untuk irigasi di sepanjang Amu dan Syr Darya untuk produksi kapas dan beras sepenuhnya menghilang (lenyap) sebelum air sampai di laut, dan sebagai hasilnya laut menjadi lebih kecil. Laut Aral Utara banyak mengandung garam untuk menopang setiap ikan di Selatan Laut Aral.
Pada zaman Soviet, kedua negara hulu, Tajikistan dan Kyrgyzstan, bertindak sebagai sumber irigasi, ruang simpan air, saat ini dialihkan menjadi tempat-tempat rekreasi dan saat ini kedua negara akan memaksimalkan penggunaannya untuk listrik tenaga air. Suatu Laporan Bank Dunia rekomendasikan bahwa Kyrgyzstan mengatur perairan arah hulu untuk irigasi daerah hilir dan melakukan pemeliharaan ruang simpan untuk listrik tenaga air.

D. Perubahan Iklim Global (Global Climate Change)
Perubahan iklim di sungai Nil itu adalah suatu contoh yang utama. Pada waktu yang sama ketika pemanasan global mengancam sungai-sungai di Afrika bahkan lebih sedikit digunakan untuk tenaga air secara ekonomis, dan perairan mereka “lebih mahal” karena pemerintah harus mengandalkan atau mengembangkan anekaragam energi.
Sungai Nil menggunakan hampir sembilan puluh persen listrik mereka dari tenaga air, diantaranya adalah tujuh puluh persen sangat tergantung di tenaga air. Para ahli iklim percaya bahwa mengeringnya sungai-sungai di Afrika sebagai dampak dari penggunaan sungai Nil, menurut Intergovernmental Panel di Climate Change, di sana telah terjadi pengurangan di dalam aliran dari 20% antara tahun 1972 sampai dengan 1987 dan gangguan-gangguan penting lainnya didalam penggunaan tenaga air, sebagai hasilnya musim kering yang sangat parah di Afrika. Pada tahun 1995 studi dampak iklim mencacat terjadi kekeringan di beberapa sungai-sungai utama di seluruh dunia tercatat bahwa sungai Nil mengalami perubahan paling parah.

III. Kesimpulan
Bahwa terdapat tiga manfaat yang terdapat di sungai/air internasional seperti:
(1) Manajemen ekosistem harus lebih baik,
(2) Penggunaan Listrik Tenaga Air, dan
(3) Dalam Pengamanan air dilakukan melalui pembagian manfaat yang adil, dibanding pengembangan yang tidak efisien.
Bahwa dari berbagai survai dan contoh-contoh bahwa masalah yang paling menonjol adalah masalah yang kedua berkaitan dengan pemanfaatn air untuk tanaga listrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: