PASPOR BIOMETRIK

PASPOR BIOMETRIK

Oleh :
AGIS ARDHIANSYAH, S.H*

Paspor biometri adalah jenis “Paspor” yang dilengkapi komputer yang berisi data tambahan berbentuk digital dari pemegang paspor. Paspor jenis ini diperkenalkan beberapa tahun lalu di Malaysia dan baru-baru ini di AS, Australia, Inggris, Jepang, Selandia Baru dan Swedia. Paspor diperkenalkan untuk mencegah pemalsuan identitas serta kepemilikan ganda atas suatu paspor. Dengan perkembangan teknologi, chip yang terpasang bisa juga berfungsi mempersingkat waktu pemeriksaan imigrasi karena konfirmasi identitas pemegang dapat dilakukan secara lebih cepat. Peta wajah (yakni jarak antara elemen-elemen wajah) biasanya dipakai sebagai dalam paspor biometrik. Ironisnya meski kini banyak negara menerapkan paspor biometrik namun kenyataannya belum banyak tempat pemeriksaan imigrasi yang dilengkapi dengan perangkat untuk membaca paspor tersebut.
Pengembangan teknologi biometrik ini dilatari bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki sesuatu yang unik/khas. Keunikan tersebut tentu hanya dimiliki oleh dirinya sendiri. Untuk mewujudkan gagasan itu, tentu harus didukung oleh teknologi yang secara otomatis bisa mengidentifikasi / mengenali seseorang dengan memanfaatkan teknologi semikonduktor. Sebenarnya, sidik jari hanya sebagian dari teknologi biometrik yang bisa dimanfaatkan, sebab bagian-bagian dari tubuh manusia yang bersifat unik/spesifik dan juga akurat ada banyak jumlahnya, di antaranya adalah sidik jari, struktur wajah, iris, dan retina mata. Namun, pada saat ini teknologi yang paling berkembang ialah pengenalan dengan sidik jari.

Direktorat Jenderal Imigrasi mulai 6 Februari 2006 menerapkan sistem Biometrik pada Paspor RI untuk menuju Paspor Elektronik (E-Passport) sesuai standar Internasional yang ditetapkan ICAO (Internasional Civil Aviation Organisastion) Organisasi Penerbangan Sipil Dunia. Penerapan paspor biometrik ini didasari semakin maraknya pemalsuan paspor manual yang banyak ditemukan oleh Departemen Hukum dan HAM terutama paspor yang dipakai oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk melakukan perjalanan luar negeri. Pemalsuan ini tentu saja sangat merugikan negara, berkisar milyaran rupiah tiap tahunnya. Selain itu, pemalsuan ini juga akan merugikan para TKI itu sendiri terutama pada saat mereka sudah berada di luar Indonesia. Manakala diadakan pemeriksaan identitas diri oleh petugas imigrasi setempat dan jika terbukti bahwa paspor mereka itu tidak asli, mereka pun tidak akan lepas dari hukuman negara setempat seperti kurungan, hukuman cambuk (Malaysia), penyitaan barang, sampai dengan pendeportasian. Sehingga kasus-kasus seperti ini memberi citra buruk pada nama baik Indonesia di dunia internasional terkait masalah paspor. Pemberlakuan paspor dengan teknologi biometrik ini juga memiliki tujuan agar kasus kepemilikan paspor ganda oleh seseorang juga dapat ditekan meski sampai saat ini Departemen Hukum dan HAM masih juga menemukan kasus penggandaan paspor di Indonesia yang mayoritas juga dilakukan oleh para TKI. Disamping itu, karena tuntutan pemberlakuan paspor seperti ini adalah tuntutan dunia internasional sudah sejak lama, sistem informasi keimigrasian kita selama ini sangat buruk dan ketinggalan. Sementara di negara-negara lain sudah memiliki sistem keimigrasian, termasuk dalam pembuatan paspor dengan teknologi canggih. Sementara di Indonesia, masih banyak kasus paspor ganda dan pemalsuan paspor

Sistem biometrik ini ditargetkan diterapkan di 104 kantor imigrasi Indonesia serta 19 kantor perwakilan atau Kedutaan Besar Republik Indonesia di seluruh dunia. Akan tetapi, sampai saat ini realita yang ada masih belum bisa memenuhi keinginan tersebut. Penerapan paspor dengan teknologi biometrik masih diutamakan pada daerah-daerah yang memiliki volume penerbitan paspor yang dikategorikan tinggi, seperti daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur yang merupakan daerah “penyumbang” TKI terbesar di Indonesia.

Berdasarkan KEPMENHUKHAM Nomor: M.02-IZ.03.10 Tahun 2004, paspor baru dengan sistem biometrik sebenarnya telah resmi diterbitkan Direktorat Jenderal Imigrasi Dephukham sejak April 2004. Namun, penerapannya baru efektif dijalankan pada awal Februari 2006 lalu. Sebagai pelengkap, Dephukham kemudian mengeluarkan PERMENHUKHAM Nomor: M.08-IZ.03.10 Tahun 2006 pada tanggal 31 Agustus 2006.

Berdasarkan Permenhukham tersebut yang kemudian diperjelas dengan Peraturan Dirjen Imigrasi Nomor: F-960.IZ.03.02 Tahun 2006 tentang Perubahan Ketiga atas Petunjuk Pelaksanaan Dirjen Imigrasi Nomor: F-458.IZ.03.02 Tahun 1997 tentang Surat Perjalanan Republik Indonesia, sejak 1 September 2006 setiap warga negara Indonesia (WNI) dapat mengajukan permohonan pembuatan paspor di Kantor Imigrasi seluruh Indonesia tanpa terikat oleh bukti domisili yang tertera di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Paspor dengan teknologi biometrik ini meninggalkan sistem lama yang menggunakan cara personalisasi (pengisian data) berdasarkan MRP (Machine Readable Passport) yaitu Foto Terpadu dengan media stiker atau label dan menggantinya dengan sistem cetak langsung (direct printing) pada halaman data (data page). Foto dan sidik jari dilakukan secara elektronis dengan imaging system, sehingga tidak mudah dipalsu atau dikelupas. Penerapan teknologi biometrik ini, berbeda dengan teknologi sebelumnya yang memisahkan pembuatan foto dan sidik jari. Teknologi biometrik mampu mempersempit proses tersebut dalam beberapa menit yang terhubung secara online dengan kantor pusat sebagai penyimpan data biometrik (wajah dan sidik jari) dan antar kantor imigrasi untuk mencegah perolehan paspor ganda pada orang yang sama karena memiliki dokumen identitas ganda, data paspor itu tidak perlu lagi dikirim ke Depkumham, sebab datanya sudah terpusat secara online. Data Biometrik (wajah dan sidik jari) disimpan pada data base yang terhubung dengan komunikasi online ke Kantor Pusat dan antar Kantor Imigrasi untuk mencegah perolehan paspor ganda (lebih dari satu) pada orang yang sama karena memiliki dokumen identitas ganda.

Adapun ketentuan-ketentuan untuk mendapatkan paspor biometrik ini adalah sebagai berikut :

1. Persyaratan memperoleh Paspor RI sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Direktur Jenderal Imigrasi No. F-458.IZ.03.02 Tahun 1997 yaitu :

Kartu Tanda Penduduk (KTP);

Kartu Keluarga (KK);

Akte Lahir/Surat Keterangan Kelahiran atau Akte Kawin/Buku Nikah atau Ijazah atau Surat Baptis.

2. Paspor RI bersifat individual/perorangan, artinya tidak dikenal Paspor keluarga, masing-masing individu harus mempunyai paspor sendiri.

3. Biaya Paspor tidak berubah tapi masih tetap berdasarkan PP No. 26 Tahun 1999 yaitu :

Paspor 48 halaman Rp. 200.000,-

Pas photo Rp. 55.000,-

Sidik jari Rp. 5.000,-

Jumlah Rp. 260.000,-

Paspor 24 halaman Rp. 50.000,-

Pas photo Rp. 55.000,-

Sidik jari Rp. 5.000,-

Jumlah Rp. 110.000,-

4. Paspor 48 halaman untuk umum berlaku 5 (lima) tahun; dan Paspor 24 halaman khusus untuk TKI berlaku 3 (tiga) tahun.



*PENULIS ADALAH ALUMNI UNIVERITAS BRAWIJAYA MALANG DAN SEDANG MENEMPUH PENDIDIKAN S2 DI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

Email : imiginaku@yahoo.com

3 Responses to “PASPOR BIOMETRIK”

  1. mau baca dulu….

  2. saya mau buat pasport baru tapi saya sudah pernah ke malaysia thun 2008 silam pasport saya hilang bagaimana caranya dan biayanya brapa tlng hub 081902801686 ya

  3. permasalahan saya sama dengan M.NURFATONI.. bolehkah saya tahu jawaban dari pertanyaan tersebut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: